






![]() | Hari ini | 195 |
![]() | Kemarin | 1384 |
![]() | Minggu ini | 11061 |
![]() | Bulan ini | 32146 |
![]() | Semua | 881431 |
| Seminar Sehari |
|
There are no translations available. Kolaborasi Multi Stakeholders dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan di Boyolali
Sebagaimana diamanatkan dalam UU no 7/1996, bahwa pangan merupakan hak dasar setiap warga negara yang wajib dipenuhi. Perwujudan Ketahanan Pangan menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah dan masyarakat, dimana Pemerintah sebagai penyelenggara pembangunan mendapat mandat untuk mengimplementasikan berbagai kebijakan dan program dalam rangka perwujudan ketahanan pangan. Sektor Pertanian merupakan salah satu sektor unggulan di Kabupaten Boyolali, dimana lebih dari 60% luas wilayah kabupaten Boyolali merupakan lahan pertanian produktif. Tercatat berbagai potensi pangan telah dikembangkan baik berupa beras, jagung dan umbi-umbian, dalam rangka mengoptimalkan potensi wilayah Boyolali.
Menyadari besarnya potensi wilayah ini, dan tuntutan pemenuhan pangan sebagai hak dasar rakyat, maka sejak tahun 2003 yang lalu, Pemerintah Kabupaten Boyolali bersama stakeholder ketahanan pangan (masyarakat petani, LSM, akademisi, dan pelaku usaha) melalui serangkaian lokakarya dan diskusi multipihak telah mensepakati Pertanian ramah Lingkungan sebagai salah satu strategi perwujudan ketahanan pangan di Boyolali. Sejak saat itu forum diskusi ketahanan pangan menjadi agenda tahunan untuk merumuskan program terkait dengan upaya perwujudan ketahanan pangan. Alokasi anggaran pembangunan daerah baik yang bersumber dari APBD dan APBN untuk sektor pertanian dalam arti luas (pertanian, peternakan, perikanan, infrastruktur pertanian) juga meningkat dari tahun ketahun, untuk menguatkan aspek produksi, konsumsi, dan distribusi pangan. Salah satu keberhasilan yang cukup menonjol adalah meningkatnya produksi padi baik secara jumlah maupun mutu, dan hal ini juga sekaligus mendorong menguatnya askes petani terhadap pemasaran. Komitment Pemerintah Kabupaten Boyolali untuk mewujudkan ketahanan pangan ditingkat daerah juga tercermin dari misi daerah Boyolali 2010-2015 yaitu “mempertahankan prestasi sebagai Lumbung padi”. Masyarakat petani sebagai pelaku utama pertanian juga telah mengupayakan berbagai cara agar komitment bersama untuk ketahanan pangan di Boyolali dapat terwujud, mulai dari meningkatkan kapasitas dan pengetahuan dalam berproduksi, memperkuat kelembagaan petani, mengembangkan diversifikasi pangan, meningkatkan kualitas produk, dan mengembangkan jaringan pemasaran untuk berbagai produk pangan yang dihasilkan. Namun demikian seiring dengan dinamika yang terjadi, berbagai upaya yang dilakukan untuk mewujudkan ketahanan pangan di Boyolali baik oleh pemerintah dan masyarakat sampai saat inipun masih menyisakan berbagai kendala dan persoalan. Beberapa persoalan yang muncul dalam berbagai diskusi di tingkat petani dan mengemuka pada sarasehan petani Boyolali dalam rangka HPS ke-31 tgl 18 Oktober 2011, diantaranya adalah sebagai berikut: · Akses petani kecil tidak memperolah kesempatan mengelola lahan kas desa, dikarenakan system lelang tanah kas desa. · Proses indentifikasi kebutuhan petani oleh Dinas-Dinas terkait belum sepenuhnya mengakomodir kebutuhan kelompok petani, sehingga fasilitas yang diberikan tidak merata, dan belum tepat sasaran (contoh: fasilitas benih padi yang diseragamkan varietasnya, peralatan dan mesin pertanian/alsintan tidak sesuai dengan kebutuhan kelompok) · Kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi pangan sehat (organic) telah meningkat, tetap tingkat produksi yang dihasilkan petani belum mampu mengimbangi permintaan konsumen yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Disisi lain program peningkatan kapasitas petani melalui SLPTT belum mengarah pada dukungan pertanian organic yang ditunjukan dengan fasilitas benih dan pupuk yang belum sesuai. · Peningkatan produksi padi justru terkendala dengan Kebijakan impor pangan dan benih, hal memperlemah posisi petani lokal Boyolali. · Perubahan iklim ekstrim yang menghambat proses produksi (seperti ledakan hama Wereng dll) belum dapat teratasi dan belum ada upaya solusi yang nyata. · Infrastruktur pertanian (irigasi) masih belum mampu mengatasi persoalan kekeringan khususnya dimusim kemarau. · Sektor peternakan sapi perah saat ini terkendala harga pakan yang semakin tidak seimbang dengan nilai jual susu, sehingga motivasi beternak sapi perah menurun. · Mencermati masih adanya persoalan dan berbagai peluang yang ada, maka dirasa perlu bagi seluruh stakeholder katahanan pangan di Boyolali untuk kembali merefleksikan berbagai kegiatan dan program yang telah dilaksanakan, untuk mempertajam strategi perwujudan ketahanan pangan ke depan. Demikian Latar Belakang diselenggarakannya seminar sehari, yang akan dilaksanakan :
Hari/Tanggal : Senin 12 Desember 2011 Jam : 09.00 - selesai Tempat : Ruang Garuda Pemda Boyolali (Jl. Merapi 48 – Boyolali) Peserta: Unsur Pemerintah (Dinas terkait, DPRD); Petani; LSM, Akademisi, Pengusaha, Organisasi masyarakat. Panitia: Panitia Bersama JATARI (Jaringan Tani Lestari) – LESMAN - KRKP (Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan) – dan Pemda Boyolali · Steering Commitee: 1. C.E. Sigit Prihandono 2. P.Mulyono 3. Witoro 4. Hartana · Organizing Commitee: JATARI Anggaran: Swadaya masyarakat dan dukungan Pemda Boyolali |