|

ANTARA - Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Boyolali, mengatakan serangan hama wereng semakin meluas di tujuh kecamatan akibat minimnya persediaan pestisida. "Stok pestisida minim, sehingga serangan hama wereng terhadap tanaman padi yang sebelumnya di empat kecamatan kini meluas tujuh kecamatan," kata Kepala Dispertanbunhut Boyolali Juwaris di Boyolali, Senin. Menurut Juwaris, serangan hama wereng di Boyolali seluas 196 hektare, antara lain di Kecamatan Sawit, Banyudono, Sambi, Ngemplak, Nogosai, Teras, dan Simo.
"Untuk pengendalian hama wereng setidaknya dilakukan penyemprotan dengan pestisida sebanyak tiga hingga empat kali," katanya. Namun, pihaknya hanya dapat menyediakan bantuan pestisida kepada para petani hingga dua kali pengendalian sehingga hama itu terus berkembang ke daerah lain. Juwaris mengatakan, pihaknya sudah melakukan antisipasi serangan wereng sejak Februari 2010. Antisipasi dilakukan dengan membentuk posko di 14 wilayah kecamatan. Namun, Juwaris mengakui ternyata Boyolali masih terkena serangan hama wereng yang hebat. Karena hama wereng sebelumnya hanya menyerang tanaman padi di empat kecamatan, tetapi kini meluas hingga tujuh kecamatan. Hal tersebut, menurut dia, disebabkan kurang proaktifnya petugas pengamat hama dan penyuluh lapangan. Bahkan para petani juga kurang tanggap menghadapi serangan hama wereng. Juwaris menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan bantuan benih palawija bagi para petani guna mengatasi serangan hama wereng. "Kami mengarahkan kepada petani untuk beralih ke palawija. Kami akan salurkan bantuan benih jagung, kedelai, kacang tanah kepada petani," katanya. Menurut dia, pengalihan tanaman padi ke palawija dimaksudkan untuk menekan tingkat serangan. Karena berdasarkan pengecekan tingkat serangan semakin meluas. "Hama wereng sebelumnya menyerang tanaman padi seluas sekitar 110 hektare, kini meluas hingga 196 hektare. Bahkan, puluhan hektare tanaman padi di antaranya mengalami puso," katanya. Sementara Anggota Komisi III DPRD Boyolali Tugiman B. Semita menjelaskan, pihaknya mendesak agar bupati segera menurunkan dana tidak terduga untuk bantuan pestisida. Selain itu, pihaknya menganjurkan agar pemkab membentuk klinik pertanian untuk jangka panjang. Guna pemantauan perkembangan serangan hama dapat dilakukan secara intensif. sumber : http://www.antarajateng.com |